Rabu, 09 Oktober 2013

PENTINGNYA MANASIK HAJI / UMROH


Bisa menjalankan ibadah Haji/Umroh merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Tidak semua kaum muslimin bisa melaksanakan ibadah ini, baik karena tidak mempunyai biaya, karena faktor kesehatan, atau karena kesibukan yang akhirnya mereka enggan untuk melaksanakan ibadah haji/umroh. Padahal bagi mereka yang mampu tetapi enggan untuk menunaikan ibadah haji, maka ancamannya adalah disuruh memilih mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani atau istilah lainnya su'ul khotimah. Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang artinya : “Barang siapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan (sudah mampu), dan ia belum haji ke Baitullah maka tidak ada yang menghalangi baginya mati Yahudi atau Nasrani”. (HR. Tirmidzi).

Apabila kita sudah sampai pada tahap mampu, maka secepatnyalah kita segera mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji, terlebih pada saat ini daftar tunggu di Yogyakarta sudah mencapai 14 tahun. Atau apabila kita ingin berkunjung ke Baitullah secepatnya, maka tidak salah apabila kita berumroh terlebih dahulu. Sebab ada beberapa kalangan yang menghukumi umroh juga wajib hukumnya seperti halnya haji, sekali dalam seumur hidup. Dan apabila kita sudah mendaftarkan diri maka kita sudah seharusnyalah mempersiapkan diri baik secara mental, fisik maupun ruhani. Dalam hal ini ada yang mengartikan bahwa mampu (istitho'ah) mencakup arti mampu secara harta atau finansial yang meliputi biaya untuk melaksanakan/mendaftar serta biaya untuk keluarga yang ditinggalkan selama menunaikan ibadah,  mampu dalam perjalanan fisik sampai ke Baitullah, serta ada yang menambahkan harus mampu secara keilmuan atau manasik haji/umroh.

Mampu secara keilmuan walaupun tidak sampai ke taraf ahli adalah sangat penting dalam melaksanakan semua amal ibadah. Imam Ibn Ruslan (seorang ulama abad 9 H) berkata : ”Dan setiap amal yang tanpa didasari ilmu, Amalan-amalannya tertolak tidak diterima”. Hadits nabipun menyatakan bahwa "Sedikit paham ilmu fiqih lebih baik dari banyak ibadah” (HR at-Thobron). Selanjutnya sabda Nabi juga menyatakan “Apabila kamu melewati taman-taman syurga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya,”Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi menjawab,”majlis-majlis ta’lim.” (HR. Al-Thabrani). Imam Athaa’ berkata “Majlis-majlis ta’lim” ialah tempat perkumpulan membahas halal, haram, bagaimana cara jualbeli, cara shalat, cara zakat, cara haji, nikah, thalak dan sebagainya. Artinya sebuah perkumpulan untuk mengetahui tatacara shalat, zakat, haji dan yang demikian hanya dapat diketahui dengan mengetahui rukun-rukun, syarat-syarat dan yang membatalkan setiap ibadah karena tanpa mengetahui yang semacam ini tidak dapat dikatakan benar ibadah seseorang.

Dengan demikian manasik haji maupun umroh sangat penting bagi mereka yang akan melaksanakan ibadah ke tanah suci. Terlebih lagi ibadah ke tanah suci termasuk ibadah "mahal" karena memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk sampai ke sana. Maka untuk itu kita perlu selektif dalam memilih biro haji maupun umroh yang akan memberangkatkan kita ke tanah suci. Jangan sampai kita memilih biro yang tidak terdapat fasilitas manasiknya baik untuk umroh maupun haji. Selain itu perlu diperhatikan juga apakah biro tersebut menyediakan pembimbing atau petugas yang mendampingi dari tanah air. Sebab saat ini banyak sekali biro-biro haji dan umroh yang hanya mementingkan keuntungan materi tanpa melihat kualitas dari ibadah jamaah, bahkan terkadang sampai menelantarkan jamaah tanpa bimbingan dan petugas yang mendampingi di tanah suci. Sehingga banyak jamaah yang berangkat ke tanah suci tapi sesampai di sana bingung apa yang harus mereka lakukan di sana.

Walaupun biasanya ada muthowif di dalam pelaksanaan ibadah di sana tetapi manasik haji dan umroh sebelum jamaah berangkat adalah sangat penting untuk diberikan sebagai bekal keilmuan dalam melakukan ibadah demi sempurnanya ibadah kita. Beberapa ahli hikmah berkata bahwa "Ilmu tanpa amal, dosa besar, manakala ‘amal tanpa ilmu, kesesatan yang amat sangat, dan ‘amal yang disertai ilmu itu adalah cahaya diatas cahaya. Maka beruntunglah bagi mereka yang memadukan keduanya (ilmu dan ‘amal)”. Dan akhirnya ketika pulang dari tanah suci setelah melakukan ibadah haji atau umroh kita benar dapat menjadi manusia yang berkualitas dan lebih baik dari ketika sebelum melaksanakan ibadah haji atau umroh. Wallahu a'lam.

 



 

Minggu, 26 Mei 2013

BERBAGI TEMPAT DI AREA MUSTAJABAH


Dalam berbagai kesempatan dan tempat di area Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram dapat dipastikan akan selalu dipadati oleh jamaah. Dahulu mungkin kepadatan ini hanya terjadi ketika musim haji saja, tetapi pada saat ini tidak dalam waktu musim hajipun area Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram juga tetap padat oleh para jamaah umroh. Dan animo masyarakat pada saat ini untuk melaksanakan umrohpun ternyata sangat luar biasa besar, dan bahkan menurut Ustad Yusuf Mansur dalam sebuah tausiahnya pernah menyebutkan bahwa tiap hari jamaah umroh dari Indonesia yang berangkat ke tanah suci tidak kurang dari 6000 orang. 

Sungguh suatu angka yang tidak kecil, dan dari data ini dapat kita cermati bahwa ternyata banyak orang kaya di Indonesia, sehingga untuk melakukan umroh yang menghabiskan sekitar 20 jutaan banyak sekali orang Indonesia yang bisa melaksanakan. Belum lagi kalau kita melihat dari data bahwa daftar tunggu antrian haji di Indonesia yang mencapai belasan tahun, hal ini lebih meyakinkan lagi ternyata masyarakat Indonesia adalah bangsa yang kaya. Mungkin karena tidak adanya pemerataan ekonomilah yang akhirnya terjadi ketimpangan ekonomi dan banyaknya orang yang kaya di Indonesia tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat secara umum, dan akhirnya Indonesia tetap hanya dikenal sebagai negara yang agak miskin atau lebih kerennya disebut dengan negara berkembang.

Berbicara mengenai banyaknya jamaah haji maupun umroh di tanah suci, maka pasti kita tidak akan lepas dari dua area yang utama di tanah suci yaitu Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Karena dua tempat tersebut menjadi konsentrasi tempat ibadah ketika melaksanakan ibadah haji maupun umroh. Selain itu di dua tempat ini terdapat tempat mustajabah yang artinya yaitu seseorang yang dapat berdo'a di tempat-tempat yang telah ditentukan niscaya akan dikabulkan segala do'anya. Di area Masjid Nabawi terdapat tempat yang menjadi idola para jamaah baik haji maupun umroh untuk dapat memasukinya yaitu raudhah. Raudhah sendiri terletak di antara mimbar Nabi Muhammad SAW dan rumah Nabi yang pada saat ini telah menjadi makam beliau. Biasanya terkenal dengan karpet hijau semi coklat, karena memang karpet di area Raudhah dibedakan dengan warna karpet di luar area Raudhah.

Rosulullah SAW pernah bersabda yang artinya "Tempat antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga" (HR. Muslim). Dan di Raudhah inilah apabila kita berdo'a dengan sungguh-sungguh insya Allah akan dikabulkan oleh Allah SWT. Untuk di area Masjidil Haram mungkin salah satu tempat yang sulit untuk dimasuki adalah Hijir Ismail atau di Multazam, karena dua tempat ini juga termasuk tempat mustajabah, tetapi areanya relatif sempit dibanding banyaknya jamaah yang berkeinginan untuk masuk dan berdoa di tempat tersebut. Dan memang untuk dapat memasuki tempat-tempat mustajabah tersebut dibutuhkan stamina ekstra, kesabaran dan perjuangan. Sehingga tak jarang di tempat-tempat ini sering terjadi gesekan-gesekan kecil yang apabila tidak dilandasi kesabaran dan keikhlasan justru akan menimbulkan sebuah pertikaian antar jamaah sendiri.

Mungkin yang perlu kita perhatikan apabila kita akan memasuki tempat-tempat tersebut adalah  jangan sampai kita mengedepankan egoisme kita yaitu yang penting kita dapat kavling di tempat tersebut walaupun kadang harus mendorong jamaah lain, menyakiti jamaah lain dan bahkan menjatuhkan jamaah lain. Ini semua bukan termasuk akhlakul karimah dan justru akan mengurangi nilai ibadah kita itu sendiri. Dan yang sangat biasa dilakukan oleh banyak jamaah ketika dia sudah dapat kavling di tempat-tempat tersebut, dia akan melakukan sholat sunat dan berdo'a selama mungkin di tempat itu, padahal banyak jamaah yang berdiri dan mengantri untuk melakukan hal yang sama di tempat itu. Inipun juga tidak dapat dibenarkan karena jamaah yang berdiri dan mengantri akan merasa kesal dengan model jamaah yang tidak mau berbagi ini. Jangan sampai terjadi justru orang lain mendo'akan hal yang jelek karena egoisme kita lakukan.

Sudah semestinyalah apabila kita berada di tempat-tempat yang mustajabah tersebut, tumbuh rasa berbagi kita dengan jamaah lain, karena mereka juga ingin dan berhak untuk dapat elakukan sholat dan berdoa di tempat itu. Cukuplah apabila kita berada di tempat-tempat tersebut dengan melakukan sholat dua rokaat kemudian berdo'a secukupnya saja, dan jangan sampai kita membuat jamaah lain merasa jengkel karena berdiri dan menunggu terlalu lama. Insya Allah apabila kita yakin dan khusu' dalam berdoa walaupun sebentar Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Dan apabila kita membuat jengkel orang lain dan dia juga mendoa'akan hal yang jelek-jelek terjadi pada kita, mungkin hal itu akan menjadi kontraproduktif bagi kita sendiri, alih-alih do'a kita yang dikabulkan justru hal yang jelek nanti yang akan kita terima karena dido'akan jelek oleh orang lain. Untuk itu berbagi tempatlah apabila berada di tempat yang mustajabah. Wallahua'lam.