Rabu, 01 Mei 2013

SEBUAH CERITA DARI TANAH SUCI (Part-2)

Dalam sebuah kesempatan ketika penulis melaksanakan sholat jamaah ashar di Masjidil Haram, setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah kebetulan penulis bertemu dengan seorang laki-laki bersama isterinya yang juga baru saja selesai melaksanakan sholat jamaah ashar. Karena sama-sama tahu kalau kita dari Indonesia yang terlihat dari perawakan, pakaian maupun ID-cardnya, maka laki-laki tersebut menyapa dan akhirnya kitapun berkenalan. Laki-laki itu berasal dari Bandung dan isterinya asli dari Sleman Yogyakarta. Dahulu laki-laki tersebut juga kuliah di UPN Yogyakarta. Obrolan menjadi agak nyambung karena penulis juga berasal  Yogyakarta tepatnya daerah Bantul.

Menurut ceritanya dia umroh bersama isteri dan anak perempuannya. Dia mewanti-wanti kepada penulis agar berhati-hati dengan tas pasport yang penulis bawa.   Karena ternyata dia pada hari sebelumnya kecopetan dompet yang berisi surat-surat seperti KTP, STNK, Kartu ATM dan uang yang jumlahnya sekitar 750 riyal Arab Saudi. Laki-laki itu merasa trauma membawa tas takut kalau kecopetan dan menjadi phobia dengan wanita-wanita kulit hitam yang memang biasanya meminta belas kasihan kepada para jamaah yang pulang dari sholat berjamaah di Masjidil Haram. Dalam batin penulis, kalau tas yang penulis bawa sih pasti aman, karena memang nggak ada apa-apanya, paling cuma HP murahan dan buku do'a saja. Dan waktu itu penulis memang hanya sedikit membawa uang saku karena memang kondisi pada waktu itu baru sangat terbatas semuanya.

Setelah bercerita tentang kecopetannya tadi, isterinya kemudian ikut berbicara dan dia berkata "Mungkin ini juga salah saya koq mas, karena sebelum berangkat saya bilang sama suami saya, uang sakunya dibagi tiga saja pak, sebagian dibawa bapak, sebagian dibawa saya dan sebagian lagi dibawa anak, biar nanti kalau kecopetan tidak hilang semuanya. Eee.. lha koq ternyata di sini jadi betul-betul kecopetan. Coba kalau dulu saya tidak bicara seperti itu, pasti kemungkinan juga tidak kecopetan bapaknya. Selanjutnya penulis cuma mengatakan kepada laki-laki dan isterinya itu agar bersabar dan mengikhlaskan saja semua yang telah hilang itu, insya Allah nanti akan ada ganti yang lebih nilainya dari pada yang hilang itu. Dan tidak terasa kita sudah harus berpisah karena jalur menuju hotel kita berbeda.

Dari cerita tersebut penulis merenung, memang betul ya kata orang-orang kalau akan melaksanakan ibadah haji atau umroh maupun ketika kita sedang berada di tanah suci, maka kita harus berhati-hati kalau berbicara, tidak boleh sombong, merendahkan orang lain dan harus selalu berkhusnudzon kepada siapapun walaupun kita tetap harus berhati-hati. Karena apa yang kita bicarakan bisa menjadi sebuah kenyataan, kalau kita sombong, niscaya kita akan dihinakan oleh Allah, dan ketika kita merendhkan orang lain mungkin justru orang itu ketika di sana bisa melakukan kelebihan dari pada kita. Untuk itu bagi teman-teman yang akan melaksanakan ibadah haji atau umroh, persiapkanlah fisik dan mental kalian dan jagalah agar kita tetap berpositif thinking. Semoga bisa menjadi haji atau umroh yang mabrur. Amin (***).


Tidak ada komentar :

Posting Komentar